Perkembangan Dunia Property 2023 Ditengah Krisis Ekonomi Global
JAKARTA TIMUR, CYBERJATIM.ID,- Industri real estate diperkirakan akan tetap tangguh dalam menghadapi resesi ekonomi atau looming resesi di tahun 2023.
Hal tersebut terangkum dalam Indonesian Real Estate Market Outlook dan Real Estate Trend 2023 menampilkan REI real estate stakeholder, Developers, Economists and Real Estate Tech Portal pada Kamis (8 Febuari 2023).
Beberapa hal dapat menggugah keyakinan bahwa dampak resesi di Indonesia tidak seburuk yang dikhawatirkan dan diperkirakan tidak akan lebih buruk dibandingkan dampak pandemi selama dua tahun terakhir.
Demikian pula tahun 2023 tidak akan lepas dari pemanasan iklim politik akibat pemilu 2024 yang akan datang.
Namun, sektor real estate sebagai kebutuhan primer masyarakat sejauh ini terbukti menjadi sektor yang berkelanjutan.
Direktur Utama Perumahanan Pondok Dhukuh Indah DR. Rudy Sinaga MBA melihat sejarah pada tahun-tahun pemilu lalu, kuota pembayaran cicilan rumah relatif fleksibel.
Misalnya, tingkat penyitaan KPR masih bisa tumbuh lebih baik dari total pinjaman pada 2014 dan 2019.
“Di tengah pandemi mulai 2020 dan juga 2021, penarikan KPR masih bisa pulih meski kredit secara keseluruhan menurun,” kata Rudy Sinaga.
Oleh karena itu, perumahan merupakan kebutuhan dasar, dan 12,75 juta keluarga masih belum memilikinya. di rumah (angka selebihnya berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS).
Di sisi piramida penduduk, hingga 88 juta orang, atau 40 persen dari total penduduk Indonesia, berusia antara 20 dan 44 tahun.
“Itu kelompok umur. Ini target pasar perumahan real estate. Artinya peluang di pasar real estate tetap dinamis dan fleksibel,” kata Rudy Sinaga.
Pengamat Ekonomi INDEF Aviliani mencatat hal yang sama. Menurutnya, pascapandemi Covid-19, mobilitas masyarakat sudah kembali normal dan tingkat konsumsi meningkat menjadi 5 persen dari total produk nasional.
Jika kecepatan ini dipertahankan, tahun depan bukan resesi melainkan resesi ekonomi. . Ia meyakini perekonomian Indonesia yang akan didominasi oleh usia produktif hingga tahun 2035 akan sangat diuntungkan oleh faktor demografi.
“Setelah itu, pemerintah perlu strategi agar tidak terjebak dalam siklus penuaan seperti Jepang dan Amerika. China sudah mulai punya dua anak. Mereka takut semua generasi tua, ekonomi akan ambruk,” ujar Aviliani.
Sementara itu, DR. RUDY SINAGA MBA, Grup Bumi Indah Lestari, menegaskan para pelaku properti Indonesia tidak perlu terlalu khawatir.
“Jangan takut. Kami mengalami krisis yang mengerikan tiga kali. Yang pertama pada tahun 1998 ketika suku bunga tinggi, hingga 18 persen. Kemudian krisis keuangan global 2008 dan kemudian pandemi Covid-19. Akhirnya kami bisa bertahan dan terus berproduksi,” kata Rudy Sinaga.
Ia optimistis para developer bisa menghadapi 2023 dengan lancar jika mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Misalnya merancang real estate yang memenuhi kebutuhan pasar, inovatif, ramah lingkungan dan mengikuti tren terkini seperti digitalisasi, keuangan inklusif, dll.





