SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
Logo Aplikasi Baca berita terbaru lebih cepat melalui Aplikasi Cyberjatim.id
INSTALL

Aktivis Sentil Guru Besar UIN Madura, Moh Zainal Arifin: Mulutmu Harimaumu

 

PAMEKASAN – Setiap manusia memiliki kebebasan untuk berpendapat. Hal inilah yang menjadikan kita memiliki hak untuk memberikan kritik atau penilaian.

Di mana kritik yang dimaksud di sini adalah kritik yang bisa membangun untuk menjadikan seseorang atau suatu hal untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Munculnya Guru Besar Sosiologi Pendidikan sekaligus Ketua Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, M.A. di media yang menggunakan Falsafah ‘Jegeh Daporrah Dibi’ terkait menimbulkan pro-kontra dikalangan aktivis.

BACA JUGA :  Kesal Pada Elman, Muin Diduga Lakukan Lakukan Ancaman di Group PD P3MD Pamekasan

Seperti yang disampaikan oleh salah seorang aktivis yang pernah mengenyam ilmu di UIN Madura, Moh. Zailnal Arifin.

Dirinya menilai apa yang disampah oleh Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, M.A. tersebut tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya.

“Dapurnya sendiri yakni Kampus UIN Madura masih banyak yang harus dibenahi malah mengomentari yang seharusnya tak harus dikomentari,” tuturnya.

BACA JUGA :  Pertahankan WBK Menuju WBBM, Waka Polres Pamekasan Cek Pelayanan Publik

Ia mengungkapkan, banyak fasilitas kampus UIN yang saat ini masih jauh dari kata sempurna.

“Contoh, ya fasilitas kampus harus di urus sebagai ketua senat UIN madura. Parkir, Jalan yg rusak, Gedung yang hampir ambruk, Wifi, Ac yang sering mati, Malam selalu gelap, Papan nama kampus pakai bener, Pintu keluar masuk salah secara arus lalu lintas, gaya kepemimpinan yang tersentral ke rektor, Pembelian mobil doble (Haice), Gedung rektorat yang sudah retak,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Akan ada Pesta Mercon di Area Makam, Salah Satu Tomas di Pamekasan Minta Aparat untuk Bertindak Tegas

Menurutnya, seharusnya prioritaskan dulu dapur diri sendiri, baru setelah menyampaikan falsafah tersebut.

“Kami yakin dia tidak tahu terhadap tugasnya saat ini, yang seharusnya menjadikan contoh terhadap generasi selanjutnya, baru berbicara Falsafah Jegeh Daporrah Dibi’,” tukasnya.

“Kami juga mengingatkan juga dengan pribahasa, ’Mulutmu Harimaumu’ berarti setiap perkataan yang kita ucapkan dapat membahayakan diri sendiri jika tidak dijaga atau dipikirkan terlebih dahulu,” tutupnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *