SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
Logo Aplikasi Baca berita terbaru lebih cepat melalui Aplikasi Cyberjatim.id
INSTALL

Siswa SDN Pasanggar 1 Diduga Menjadi Korban MBG, Homaidi : Program MBG Sumber Gizi, Bukan Sumber Hilangnya Nyawa

PAMEKASAN, CYBERJATIM.ID,- Insiden terjadinya dugaan keracunan terhadap sejumlah siswa di SDN Pasanggar 1, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, mendapatkan berbagai sorotan dari sejumlah aktivis. Kamis (18/9/2025)

Salah satunya dari ketua cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan Homaidi.

Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh SPPG Yayasan Al Bukhari Murtajih, Desa Pasanggar tersebut diduga sebagai penyebab terjadinya delapan siswa muntah-muntah.

BACA JUGA :  Laporan Dugaan Dugaan Tindak Pidana Korupsi PISEW Kabupaten Pamekasan, Mendapat Respon Positif Dari Polda Jawa Timur

Bahkan siswa yang sebelumnya dikabarkan hanya empat orang, kini bertambah menjadi delapan orang. Setelah dilakukan penelusuran oleh pihak kepolisian.

“Kami mendesak kepada aparat penegak hukum, khususnya instansi terkait yang menaungi MBG di Pamekasan untuk menelusuri terjadinya dugaan keracunan yang disebabkan oleh Makanan Bergizi Gratis, Jangan biarkan ini terus berlarut karena menyangkut nyawa”. Tegas Homaidi

BACA JUGA :  Ketua PSHT Cabang Kabupaten Belu , Kunjungi Kebun Milik Anggotanya di Sirani

Ia juga meminta kepada ketua DPRD Pamekasan, untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap MBG. Sehingga progran ini benar-benar menjadi sumber gizi bukan justru menjadi sumber hilangnya nyawa dan masa depan.

 

“Kami mendesak kepada ketua DPRD Pamekasan mengevaluasi secara menyeluruh terhadap MBG. Jangan sampai program yang seharusnya menjadi sumber gizi justru berubah menjadi ladang bisnis bagi segelintir pihak,” tutup Mujid.

BACA JUGA :  Mahasiswa ITB Asal Pamekasan Gantung Diri, Ini Pesan Dalam Secarik Kertas

Sementara Iptu Heri Siswanto Kapolsek Pegantenan, menyatakan bahwa pihaknya sudah melakukan penyelidikan. Pihaknya mengakui bahwa jumlah siswa yang muntah lebih dari empat orang.

“Hasil penelusuran kami, ternyata bukan empat siswa, tapi semuanya ada delapan siswa untuk sementara,” kata Iptu Heri Siswanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *