Lewat Kelas Jurnalistik, JMP Ajak Generasi Muda Cerdas Bermedia
PAMEKASAN, CYBERJATIM.ID – Dalam upaya membuka cakrawala berpikir generasi muda dan meningkatkan keterampilan literasi, Jurnalis Muda Pamekasan (JMP) resmi menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Mengenal Jurnalistik”, Sabtu (18/7/2027).
Bertempat di STIS As-Salafiyah Pamekasan, agenda ini tidak hanya menjadi ruang belajar biasa, melainkan media bagi para peserta untuk membuka “jendela dunia” melalui pemahaman jurnalistik yang benar.
Jika dunia media sering kali diidentikkan dengan hal-hal yang bersifat permukaan semata, JMP ingin menggeser paradigma tersebut dengan menekankan bahwa esensi jurnalistik adalah menjadi sumber ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Untuk membedah materi secara mendalam, JMP menghadirkan sosok kompeten di bidangnya, yaitu Andikur Rahman, yang saat ini menjabat sebagai Penasihat JMP.
Rekam jejak Andikur Rahman di dunia pers nasional sudah tidak diragukan lagi. Dia tercatat telah lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sejak tahun 2017, lulus OKK PWI tahun 2025, serta pernah dipercaya sebagai Pengurus PWI bidang Humas dan SIWO PWI Pamekasan periode 2018–2026.
Selain kaya pengalaman organisasi, Andikur Rahman juga aktif di dapur redaksi sebagai Pimpinan Redaksi KupaspojoK.com dan Sekretaris Media Nasional Beritalima.com.
Prestasi gemilangnya pun diperkuat dengan raihan Piagam Jurnalistik PWI Jatim 2011 hingga Penghargaan Jurnalis dari Polda Jatim yang diraihnya pada tahun 2023 silam.
Dengan latar belakang pemateri yang sangat berpengalaman, kegiatan “Mengenal Jurnalistik” ini diharapkan dapat melahirkan bibit-bibit jurnalis muda yang berintegritas, kritis, dan mampu menyampaikan informasi yang mencerahkan bagi masyarakat, khususnya di wilayah Pamekasan dan sekitarnya.
“Dunia literasi dan informasi di era digital menghadapi tantangan berat, terutama terkait maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks,” tegas Andikur Rahman.
Pengudaha muda ini memaparkan ulasan mendalam mengenai pentingnya masyarakat—khususnya generasi muda—untuk kembali memahami dasar-dasar jurnalistik secara benar dan kokoh.
Dalam pemaparannya, Andikur menekankan bahwa jurnalistik bukan sekadar aktivitas menulis atau melaporkan sebuah peristiwa di media sosial.
“Lebih dari itu, jurnalistik adalah sebuah disiplin ilmu yang mengutamakan kebenaran demi kepentingan publik,” terangnya.
Sebagai sosok yang telah mengantongi sertifikasi UKW Dewan Pers sejak 2017, Andikur Rahman menggarisbawahi tiga poin krusial yang membedakan produk jurnalistik resmi dengan informasi liar di media sosial.
Pertama, disiplin verifikasi. Menurutnya, setiap produk jurnalistik wajib memenuhi unsur 5W + 1H$ (What, Who, Where, When, Why, dan How) secara utuh.
“Namun, yang paling krusial di era sekarang adalah proses check and re-check (konfirmasi). Informasi tidak boleh langsung ditelan mentah-mentah tanpa adanya klarifikasi dari pihak-pihak terkait,” tegasnya.
Kedua, menurut Andi, akurasi di atas kecepatan. Menjamurnya media digital memicu tren clickbait demi mengejar pembaca. Andi mengingatkan bahwa kecepatan menyampaikan informasi tidak boleh mengorbankan akurasi data.
“Berita yang salah atau tidak akurat justru akan menyesatkan masyarakat,” tekannya.
Ketiga, independensi dan sifat edukatif. Jurnalistik harus berfungsi sebagai alat edukasi yang independen. Jurnalis atau penulis harus berdiri di atas fakta obyektif, bukan berdasarkan opini pribadi atau titipan kepentingan tertentu.
“Lebih lanjut, pria yang juga menjabat sebagai Pimpinan Redaksi KupaspojoK.com ini menjelaskan bahwa dengan memahami jurnalistik, seseorang akan terlatih untuk berpikir kritis.
Kemampuan memilah mana berita yang valid dan mana yang sekadar rumor akan menjadi benteng utama di era banjir informasi.
“Jurnalistik itu ibarat pintu ilmu dan jendela dunia. Ketika kita menulis dengan basis data yang benar dan riset yang kuat, kita sedang memberikan jalan bagi masyarakat untuk melihat dunia dengan lebih jernih dan cerdas,” ujar Andi.
Pihaknya berharap JMP mampu menjadi motor penggerak literasi di daerah. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi yang pasif, melainkan mampu memproduksi konten-konten jurnalistik yang sehat, edukatif, dan membawa maslahat bagi masyarakat luas. (*)





