SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
Logo Aplikasi Baca berita terbaru lebih cepat melalui Aplikasi Cyberjatim.id
INSTALL

Jembatan Gantung Menjadi Jalan Alternatif Bagi Masyarakat Desa Tialai Dan Desa Fatuba’a ketika Hendak Berpergian ke Atambua

M@u

BELU, CYBERJATIM.ID – Kurang lebih seminggu terakhir intensitas hujan terus menguyur Kabupaten Belu Khususnya dan Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya, hingga melumpuhkan aktivitas masyarakat khususnya di Kabupaten Belu.

 

Akibat cuaca ekstrim telah membuat fenomena alamnya yang menunjukan kejutan – kejutan Ekstrim seperti Gunung berpindah dan menutupi jalur utama Penghubung tiga Kabupaten seperti, Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan ( TTS) dan Kabupaten Kupang Lumpuh Total beberapa hari lalu.

 

Tidak sampai disitu, intensitas hujan yang terus meningkat hingga membuat masyarakat dua Desa yakni Desa Fatuba’a dan Desa Tialai, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu tidak bisa berpergian akibat Banjir deras yang terus meningkat volume airnya.

BACA JUGA :  Kejari Timor Tengah Utara Mengamankan Ketua Araksi, Gegara Hal Ini

 

Tetapi hal itu tidak menjadi soal, karena ada jalur alternatif yakni jembatan gantung yang letaknya di Desa Tialai, yang menghubungkan kedua Desa Ini dengan Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu. Tetapi menyebrang haruslah lebih berhati – hati karena jalannya licin yang bisa menyebabkan kecelakaan.

 

Salah seorang pengguna Jalan, Yang tidak menyebutkan namanya mengatakan, akhir – akhir ini ia tidak bisa bepergian keluar khususnya ke kota Atambua karena hujan yang terus menguyur terus serta ditambah lagi dengan volume air yang semakin besar.

BACA JUGA :  Ribuan Umat stasi Sukabitetek Adakan Jalan Salib Hidup Dengan Salib Raksasa 

 

” karena banjir maka terpaksa kita harus ke atambua melewati jembatan gantung ini. Tetapi kita juga was – was karena jalannya licin, kalau jatuh berarti langsung kali (sungai).” ungkapnyan kepada Awak Media.

 

Menurutnya, jalur ini sangat strategis bagi masyartakat Tialai dan sebagian warga Fatuba’a untuk dilaluinya. bukan hanya itu, Lanjutnya, jembatan gantung merupakan jalur alternatif utama bagi masyarakat dari dua Desa ini dalam melakukam akses ekonomi.

BACA JUGA :  Warga Kota Fajar Dikejutkan DAS Krueng Kluet Meluap.

 

” kita mengantar hasil pertanian seperti sayur – sayuran ke pasar kota Atambua. karena jalur inilah akses paling dekat ke pusat kota kabupaten Belu.” terangnya.

 

Himbaunya, ketika masyarakt dari luar kota yang ingin berkunjung kedua Desa Ini, bisa memilih jalur Alternatif ini sebagai akses utama yang dekat. Ada jalur lain, namun jarak tempuhnya lumayan jauh dan kurang lebih 5 kilometer.

 

” jembatan gantung ini hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua, kalo roda empat tidak bisa.” tutupnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *