SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
Logo Aplikasi Baca berita terbaru lebih cepat melalui Aplikasi Cyberjatim.id
INSTALL

Cerita Gagalnya Produksi “Teh Pokak” Hingga Melejitnya Air Mineral “Chellep”

CYBERJATIM.ID,- Siapa yang tidak mengenal air mineral dengan merek “Chellep” ? Air mineral dengan kemasan 330 Ml dan 550 Ml ini ramai dipasaran, bahkan disetiap acara selalu menjadi suguhan terbaik bagi para tamu undangan.

Air kemasan ” Chellep ” ini berdiri sejak kurang lebih tahun 2019 , dengan tujuan pengembangan perekonomian Pondok Pesantren.

Air Mineral “Chellep” diketahui milik pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum dibawah pimpinan Kh. A. Zubairi tepatnya di Sentol laok, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.

General Manager Air Mineral ” Chellep ” Memberikan penghargaan kepada Distributor

Sekitar tahun 2019 muncul inisiatif dari Owner Air Mineral Chellep untuk mengembangkan sebuah bisnis, yang akhirnya disepakati memproduksi ” Teh Pokak” namun usaha tersebut mengalami kegagalan, sehingga managemen mengalihkan usahanya terhadap Air Mineral dengan alasan mesin yang digunakan hampir sama.

BACA JUGA :  Tingkatkan Kualitas Lingkungan, Mahasiswa UIN Madura Jadi Pelopor Pembuatan Lubang Biopori di Palesanggar

Kenapa “CHELLEP” Jadi Pilihan ?

Sepuluh nama yang awalnya menjadi bahan pertimbangan untuk kemudian menjadi Brand dari air mineral yang akan diproduksi, seperti halnya Zamzam, Bening dan lain – lain.

Akhirnya hasil pertimbangan bersama, menyepati untuk mengambil nama ” Chellep ” dengan tujuan untuk mengangkat bahasa Madura untuk menjadi bahasa tren yang menasional, serta diyakini mampu menghipnotis pelanggan.

” Brand Air Mineral akhirnya disepakati dengan nama “CHELLEP” dari 10 nama yang kita rembukkan, karena saya meyakini selain nama menjadi pengaruh besar terhadap produk dan kemajuan product tersebut “Chellep” nantinya akan berpengaruh pada mintset konsumen “. Tegas Zaimul Arifin selaku Manager Air Mineral Chellep

BACA JUGA :  Bupati Pamekasan Gelar Silaturrahmi Antar OPD, Mas Tamam : Harus Kompak dan Solid

Tidak hanya itu Zaim menambahkan bahwa pengambilan bahasa memang diikutkan pada tren masa kini, sehingga pihaknya menambahkan huruf H untuk mempercantik brand yang diangkat.

” Saya memberikan bahasa Madura gaul atau kekinian sehingga saya tambah huruf H “. Tambahnya

Lantas Seperti Apa Strategi Pemasarannya ?

Zaim sapaan akrabnya sosok pemuda yang juga lulusan Iain Madura tersebut sedikit memaparkan konsep pemasaran yang digunakan untuk mendorong kemajuan bisnisnya dengan cara membentuk distributor dan agen yang dibagi diberbagai daerah.

Seperti halnya Kabupaten Sumenep ada dua Distributor, selatan dan utara selain itu juga ada agen dan sub agen untuk mengcover wilayah pedalaman.

BACA JUGA :  Vaksin Menyehatkan ! GAPURA Madura Kembali Gelar Vaksin Gratis

” Pemasarannya sederhana, kami membentuk ada distributor setiap Kabupaten maksimal 2 saja, seperti halnya Sumenep utara dan selatan, kalau dipamekasan masih di diselatan, sementara utara masih belum “. Ujarnya

Mantan Aktivis PMII itu juga menengaskan agar terbentuknya Distributor guna menstabilkan harga dibawah.

” Kenapa saya konsep seperti itu biar harga itu tetap stabil kebawah, dan diatur oleh distributor itu sendiri harganya, cuma kami kasih HET ke distributor biar harganya sama, selain distributor saya juga membentuk agen, harga diatasnya distributor sehingga tidak merusak harga distributor. kemudian sub agen dibawah agen hanya beberapa desa yang ada sub agennya, dan harga tentunya diatasnya agen “. Tutup Zaim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *