SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
Logo Aplikasi Baca berita terbaru lebih cepat melalui Aplikasi Cyberjatim.id
INSTALL

Semarak Kompetisi HIMABA Datangkan Penyair Indonesia, D. Zawawi Imron: Apa Bedanya Hujan dan Kamu?

Pamekasan, CYBERJATIM.ID – Himpunan Mahasiswa Bahasa Indonesia (HIMABA) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Madura (UNIRA) gelar berbagai kompetisi piala D. Zawawi Imron ke-IV (31/05/2023)

Kegiatan yang dikemas selama 2 hari berturut-turut bertempat di rektorat lantai lll UNIRA. H-I diisi dengan final lomba pidato dan penampilan dari panitia, dilanjut hari H-2 yaitu lomba baca puisi dengan naskah puisi D. Zawawi Imron.

Dok: Cyberjatim.id

Dalam agenda ini mendatangkan D. Zawawi Imron didampingi rektor UNIRA bapak Faisal Estu Yulianto S.T,. M.T,. dan dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ibu Dra. Yanti linarsih, M.pd.

BACA JUGA :  Habib Bahar Bin Smith di Tembak Orang Tak Dikenal (OTK)

Ketua umum HIMABA menyampaikan “Agenda hari ini menjadi sejarah ke progresan HIMABA kedepan dari pada sebelumnya,” sejarah mencatat pak De tidak pernah berkenan hadir di saat diundang menghadiri acara ini, maka ini momentum sakral dalam jejak sejarah HIMABA.

Sengaja lanjutnya, “Kami angkat tema “Tajam keris raja tajam lagi pena pujangga” ketajaman bukan lah hanya terletak pada clurit, pisau dan sebagainya melainkan juga melekat dalam pena dan juga mengutip puisi dari usman awam penyair Malaysia yaitu kehormatan dan keimanan dalam memimpin,” ujar Imam.

BACA JUGA :  Panitia Musywil Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-39, Pramusywil Adakan Seminar Nasional

Dr. Faisal Estu Yulianto S.T M.T,. Menyampaikan bahwa keberagaman bahasa ras budaya di Indonesia menyatu dalam bahasa Indonesia, “Perlu kita menyikapi dengan sebaik mungkin dan menjadi bahasa nasional di republik Indonesia,” tutur rektor Universitas Madura.

D. Zawawi Imron dalam sambutannya membuka dengan pertanyaan sastra dan harus dijawab dengan sastra, “Apa bedanya hujan dan kamu? kalau hujan hanya meresap dalam bumi, tetapi kalau dirimu meresap dalam hatiku,” dengan sorakan dan gemuruhnya tepuk tangan mahasiswa.

BACA JUGA :  Ketua Bidang Hukum dan Advokasi PN AMK : Denny Felano Lulusan Terbaik Bimtek Hukum Acara PHPU MK

Bukti bahwa puisi bisa membangkitkan jiwa adalah pidato bapak Soekarno pada tahun 17 Agustus 1964, berjudul Fifere Pritolongso, “Sodara-sodara sebangsa tanah air salah seorang penyair kita Khoiril Anwar namanya mengatakan aku ingin hidup seribu tahun lagi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *