SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
Logo Aplikasi Baca berita terbaru lebih cepat melalui Aplikasi Cyberjatim.id
INSTALL

Berawal dari Hobi, Haji Aan Sukses Kembangkan Inovasi Budidaya Lele Panen 45 Hari

MADURA, CYBERJATIM.ID – Raja Lele Indonesia mengembangkan metode budidaya lele yang diklaim mampu mempercepat masa panen menjadi mulai usia 45 hari. Inovasi yang mengandalkan formula tambahan pada pakan tersebut ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan ikan sekaligus menekan biaya produksi.

Pengembangan metode ini dipelopori Muzammil Andriansyah, yang akrab disapa Haji Aan. Berawal dari kegemarannya memelihara dan mengonsumsi lele, ia kemudian merintis usaha budidaya bersama sejumlah rekannya.

Menurut Haji Aan, formula tambahan pada pakan menjadi salah satu kunci metode yang dikembangkan Raja Lele Indonesia. Formula tersebut diklaim mampu mempercepat pertumbuhan lele sehingga dapat memasuki masa panen lebih awal dibandingkan metode konvensional.


Proses panen dilakukan secara bertahap. Panen pertama dimulai ketika ikan berusia 45 hari, kemudian dilanjutkan pada usia 50 hari. Seluruh ikan dalam satu kolam ditargetkan sudah dapat dipanen paling lambat saat berusia 60 hari.

Haji Aan membandingkan metode tersebut dengan pola budidaya konvensional yang umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan sebelum panen.

Menurut dia, pemangkasan masa pemeliharaan turut mengurangi kebutuhan pakan dan biaya operasional. Bahkan, ia mengklaim penggunaan formula tambahan tersebut dapat menghemat biaya pakan hingga 50 persen.

“Dari segi pakan, antara tiga bulan dan 45 hari, kami sudah menang 50 persen dengan tambahan formula yang kami formulasikan ke pakan tersebut,” ungkap Haji Aan, Minggu (1/11/2026).

BACA JUGA :  Tgk Amran Berikan Bonus Kepada Atlit PORA Ke-14, Pidie Jaya

Ia menjelaskan, inovasi tersebut tidak semata-mata dikembangkan untuk kepentingan bisnis Raja Lele Indonesia. Haji Aan berharap metode budidaya itu dapat diterapkan oleh pembudidaya lain agar efisiensi produksi sektor perikanan semakin meningkat.

“Tujuan utama kami pun sebetulnya untuk mendukung program ketahanan pangan pemerintah,” katanya.

Pengusaha muda asal Madura itu juga berharap inovasi yang dikembangkannya dapat membantu peternak lele, khususnya dalam menghadapi tantangan biaya produksi dan meningkatkan hasil usaha.

“Harapan kami ke depan, kami bisa membantu peternak-peternak yang lain, peternak-peternak lele yang lain,” ujarnya.

Konsumen Akui Kualitas Lele

Metode budidaya Raja Lele Indonesia juga mendapat tanggapan positif dari salah satu konsumennya, Anton Sujarwo.

Anton mengaku telah berkecimpung dalam usaha lele selama 12 tahun. Sebelum mengenal Raja Lele Indonesia, ia terbiasa membeli lele dari pembudidaya yang menggunakan metode konvensional.

Berdasarkan pengalamannya, Anton mengaku baru menemukan pembudidaya yang mampu menghasilkan lele siap panen mulai usia 45 hari di tempat tersebut.

Ia menilai kualitas lele yang dihasilkan juga mampu bersaing dengan produk dari pembudidaya lainnya.

BACA JUGA :  Polres Cianjur Gelar Konferensi Pers Ungkap Kasus Narkotika Periode Juli Tahun 2023

“Saya terjun di dunia lele itu sudah selama 12 tahun ini. Nah, saya baru menemukan lele dalam usia 45 hari bisa panen cuma ada di sini. Itu untuk kualitasnya juga enggak kalah sama pembudidaya-pembudidaya yang lain,” kata Anton.

Selain kecepatan panen, Anton menyoroti kemampuan Raja Lele Indonesia dalam memelihara ikan dengan kepadatan tinggi.

“Di Jawa Timur setahu saya itu yang bisa budidaya lele dengan kepadatan tinggi cuma ada di sini,” ujarnya.

Dari sisi pemasaran, Anton menyebut lele hasil budidaya tersebut mendapat respons baik dari konsumennya. Menurut dia, tekstur daging ikan dinilai lebih tebal dan padat dibandingkan lele yang biasa diperoleh dari pembudidaya lain.

“Nah, untuk konsumen itu lebih suka yang ini, karena dagingnya lebih tebal. Untuk kapasitas dagingnya itu lebih tebal, lebih padat daripada pembudidaya yang biasa-biasa aja,” tuturnya.

Target Bangun Sentra Budidaya di Setiap Provinsi

Untuk mendukung proses pemeliharaan, Raja Lele Indonesia menerapkan sistem sirkulasi air selama 24 jam. Sistem tersebut digunakan untuk menjaga kebersihan dan kualitas air kolam selama masa budidaya.

Haji Aan menjelaskan, sirkulasi air secara terus-menerus juga bertujuan menunjang kebutuhan ikan terhadap mineral yang terkandung dalam air.

BACA JUGA :  Babinsa Kawal Pembangunan Paving Desa Taraban, Permudah Akses Warga dan Petani

“Air 24 jam kami nonstop selalu ganti dengan sirkulasi karena kebutuhan lele, mineral diambil dari mineral air tersebut. Jadi kolam kami tetap selalu bersih dan higienis,” jelasnya.

Saat ini, Raja Lele Indonesia menggunakan kolam berukuran 6 x 10 meter dengan kapasitas sekitar 150.000 hingga 200.000 ekor lele.

Dengan kepadatan tersebut, pengelolaan kualitas air dan pemantauan kondisi ikan menjadi bagian penting dalam proses pemeliharaan.

Ke depan, Haji Aan berencana memperluas penerapan metode budidaya tersebut melalui pembangunan sentra produksi di berbagai daerah. Ia menargetkan setiap provinsi memiliki satu titik sentra budidaya lele.

Menurutnya, keberadaan sentra di berbagai wilayah dapat mendekatkan lokasi produksi dengan pasar sehingga biaya distribusi dan transportasi bisa ditekan.

“Dan saya berharap tiap provinsi saya ingin membangun satu titik di seluruh (wilayah-red) Indonesia untuk menekan biaya transportasi. Itu harapan kita ke depan,” ujarnya.

Haji Aan berharap inovasi budidaya lele dengan masa panen mulai usia 45 hari dapat memberikan manfaat lebih luas bagi sektor perikanan nasional.

Tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha, ia juga ingin metode tersebut membuka peluang bagi pembudidaya lain untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan sekaligus mendukung ketahanan pangan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *